Lagi-lagi Cinta

Ku bukan tak tahu cinta sehingga tidak bisa mencintaimu. Ku bukan tak tahu sayang sehingga tak bisa menyayangimu. Pertanyaan kenapa aku tak bisa mencintaimu, jawabannya selalu sama dan tak berubah. Bersabarlah mendapatkan cinta…cinta yang hakiki.

Pada Allah aku memperoleh cinta dan kasih sayang. Dia mengajarkan kepada hamba-Nya bagaimana cinta itu dan bagaimana cara mencintai yang benar, cara mencintai yang diridhai-Nya. Aku belajar dari-Nya dan jika bisa belajar juga tentang-Nya lebih dahulu. Cinta kepada-Nya lebih lah utama dari cinta kepada makhluk-Nya. Dia senantiasa ada kapan pun mau menghadirkan-Nya. Dia tak butuh bayaran, iming-iming agar bisa mencintaimu juga. Dia adil dengan keadilan-Nya. Bahkan ia bisa mengajarimu lebih dari sekadar cinta.

Jangan tangisi yang telah berlalu, inti dari kehidupan adalah bergerak maju, menangisi nasi yang telah menjadi bubur dengan segala penjelasan, pembelaan dan konfrontasi yang menyertainya sebenarnya sama saja dengan langkah mundur. Keluhan juga hanya akan membuat hati yang semula kecewa bertambah kecewa. Bangkitlah!

Ibu, Izinkan Ku Ucap Kata Ini

D

Ibu..

Wajahmu terukir indah dalam memori kehidupanku

Sketsa kesabaran yang tak pernah usang

Luapan kasih sayang yang tak pernah lekang

Ibu…

Tiga huruf yang terpatri dalam jiwa

Meluruskan niat

Memberi arah untuk melangkah

Memberi semangat saat payah

Ibu…

Engkau kini semakin menua

Ubanmu sudah nampak kasat mata

Namun keikhlasanmu tak pernah putus

Ibu…

Izinkan

Kukecup keningmu yang suci

Kuusap lelah didahimu

Kubasuh kakimu yang teguh

Hingga

Kuucap sepenuh hati

“Aku cinta padamu Ibu”

**Dikutip dari Buku Setia Furqan Khalid “Jangan Jatuh Cinta Tapi Bangun Cinta”